Perbedaan Suporter Indonesia dan Eropa

1327912548649219709

Rasanya tidak akan habis untuk membahas sepakbola, ada saja yang menarik diperbincangkan. Mulai dari klub, pemain, stadion, kostum, hingga supporter. Sepp Blatter pernah mengatakan jika Indonesia adalah Brasil-nya Asia untuk supporter. Bahkan yang terbaru Coach Rahmad Darmawan mengatakan jika sekarang tidak ada yang dapat dibanggakan dari sepakbola Indonesia kecuali fanatisme supporternya. Dua pernyataan yang tentu saja cukup mewakili pengakuan kepada para supporter Indonesia yang terkenal fanatik.

Namun ternyata terkadang fanatisme supporter Indonesia dianggap sebelah mata. Masih banyak yang berpikir dan berkata jika supporter Indonesia tukang rusuh, hanya sekumpulan orang pengangguran yang suka buat onar dan cap negatifnya. Saya berani berkata pikiran dan pernyataan mereka SALAH!

Menurut saya ada dua yang membuat orang mempunyai persepsi negatif tentang supporter Indonesia. Yang pertama karena mereka belum pernah menonton langsung sepakbola ke stadion, jadi mereka belum mengetahui keadaan yang sebenarnya supporter Indonesia. Diibaratkan kalau minum kopi, mereka itu sebelum minum kopi sudah mengatakan jika kopi itu pahit, padahal belum tentu, mereka hanya melihat warnya saja. Dan yang kedua karena media di Indonesia yang terkadang terlalu berlebihan memberitakan kegiatan negatif supporter seperti tawuran dll. Sedangkan kegiatan postifnya hampir tidak tersentuh sama sekali. Good news is bad news.

Kebanyakan orang berpikir dan mengatakan jika sepakbola mancanegara lebih berkualitas dari sepakbola Indonesia, begitu juga supporternya. Secara kualitas memang sepakbola masih sedikit tertinggal dari negara lain, namun sesuatu hal yang tidak bisa secara kasat mata yang membuat rakyat Indonesia begitu mencintai sepakbola, terutama Timnas Indonesia disaat kondisi sepakbola yang terpuruk. Buktinya puluhan ribu tumplek blek di dalam Stadion Gelora Bung Karno ketika timnas bermain. Jutaan rakyat bersedih ketika timnas kalah dan jutaan rakyat berteriak kemenangan ketika Indoensia menang. Seolah tidak ada alasan bagi rakyat Indonesia untuk membenci sepakbola di tengah konflik sepakbola nasional.

Memang diakui kualitas sepakbola Indonesia tertinggal dari negara-negara Eropa bahkan Asia. Tetapi kalau ada yang mengatakan jika kualitas sepakbola Indonesia berbanding lurus dengan kualitas supporter tanah air itu salah. Orang beranggapan jika supporter di Inggris begitu “santun”, apalagi melihat jika stadion di Inggris tanpa pembatas yang menurut pandangan orang itu menandakan jika penonton Inggris anti anarkis dan tertib.

Sedikit cerita, di Inggris dan Eropa sana seluruh penonton sepakbola bisa dikatakan lebih brutal dari pada Indonesia, mereka sebelum masuk stadion minum dulu di bar-bar dekat stadion. Mereka jika berkelahi diluar stadion bahkan terkadang sampai saling tusuk, di Indonesia sangat jarang terjadi saling tusuk, kebanyakan saling lempar batu. Selain itu media disana tidak terlalu membesarkan masalah negatif seperti itu karena dianggap akan memalukan negara. Sangat berbeda dengan kita yak.

Di Eropa supporter dikelola oleh klub, tidak seperti di Indonesia supporter bisa dikatakan berdiri sendiri. Di Eropa tidak ada organisasi suporter macam Beladas, Singa Mania, Jak Mania, Viking, La Mania dll. Di Eropa tur ke kandang lawan juga dikoordinir oleh klub, sehingga lebih seperti agen perjalanan. Dan yang mungkin sering tidak kita lihat saat nonton sepakbola luar negeri, terutama Inggris penonton yang beradas di stadion kebanyakan orang luar Inggris yang bisa dikatakan turis. Sangat berbeda bukan dengan sistem per-supporteran Indonesia?

Selain itu di luar negeri supporter akan dihukum berat tidak boleh masuk stadion jika berulah di stadion. COntohnya pendukung Glaslow Celtic yang menyentil Kiper AC Milan Nelson Dida yang tidak bisa masuk stadion sampai dia mati. Sangat kejam bukan, sangat berbeda dengan di Indonesia yang bahkan stadion sampai hancurpun tidak ada efek jera. Kebanyakan di Indonesia, supporter yang berulah di dalam stadion dimasukkan ke penjara polisi. Padahal jelas FIFA mengatur jika terjadi pelanggaran di dalam stadion maka dihukum dengan “hukum bola”. Misalnya seperti pemberian hukuman supporter Celtic tadi diatur oleh sistem membership supporter klub. Sehingga segala tindak tanduk supporter diatur oleh klub. Klub juga bertanggung jawab terhadap tiket tandang supporter, akomodasi ketika tur, bahkan jika klub kalah memalukan saat pertandingan tandang biaya tur akan dikembalikan penuh. Beda dengan Indonesia yang kalah menang pakai uang sendiri karena supporter tidak diatur oleh klub.

Di luar negeri juga istilah rasis berbeda dengan di Indonesia, di Indonesia chant “…dibunuh saja..” itu termasuk rasis. Padahal menurut Kamus Besar bahasa Indonesia rasisme diartikan sebagai paham atau golongan yang menerapkan penggolongan atau pembedaan ciri-ciri fisik ( seperti warna kulit ) dalam masyarakat.

Sepakbola Indonesia dan Supporter Indonesia jelas beda dengan Sepakbola dan Supporter Mancanegara. Sepakbola dan Supporter Mancanegara mungkin lebih terib, teratur, dan waah dibanding dengan sepakbola dan supporter Indonesia. Tetapi percayalah tidak ada alasan bagi rakyat Indonesia untuk tidak menyukai sepakbola dan membenci sepakbola nasional yang tengah dirundung konflik. Lihatlah sepakbola dan supporter Indonesia dari berbagai sudut pandang, yang terpenting sudut pandang sosial dan budaya yang terkadang dianggap sebelah mata.

Jangan sampai kita memuji sepakbola manca negara tetapi malah mengecilkan sepakbola nasional. Jangan sampai kita lebih mencintai sepakbola manca negara dari pada sepak bola nasional. Jadikan sepakbola manca negara sebagai pembanding dan contoh untuk memajukan sepakbola nasional karena tugas kita untuk memajukan sepakbola nasional.

Mungkin hanya sepakbola yang bisa menyatukan rakyat negeri ini di tengah berbagai perbedaan, konflik, dan segala macam permasalahan yang mendera negeri ini. Mungkin hanya sepakbola yang bisa membuat rakyat negeri ini bersuka cita bersama, berteriak kemenangan bersama, hingga menangis bersama. Percayalah menonton sepakbola nasional lebih maknyuusss, lebih berasa.

By andikayosa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s